SEKILAS INFO
  • 1 bulan yang lalu / Pembangunan Website Masjid Aminatul Jannah sudah dimulai, Bismillah… semoga diberikan kelancaran
WAKTU :

Sejarah

Masjid Jami Aminatul Jannah merupakan masjid yang didirikan pada tahun 2007-an, masjid tersebut didirikan atau diprakarsai oleh seseorang tokoh masyarakat bernama H. Nazarudin. Namun sebelum menjadi sebuah masjid dulunya adalah kebun kopi. Proses berdirinya sebuah masjid di Tanjungsari sangatlah panjang dan bersejarah melihat dari proses dan perkembanganya.

Awal mula ide pendirian masjid dari seseorang yang bernama H. Nazarudin yaitu seorang agnia yang berasal dari Jawa Barat, beliau bukanlah warga asli desa setempat, beliau datang ke Tanjungsari sekitar tahun 2000. Proses berdirinya masjid berawal dari keprihatinan melihat tidak adanya sebuah tempat ibadah umum buat warga melaksanakan sholat berjamaah dan sholat jumat serta kegiatan agama lainya di sekitaran rest area, karena itulah peran dan fungsi masjid dalam masyarakat sangatlah penting untuk tempat pembinaan umat dan sarana pendidikan agama islam.

Dalam Proses pembangunan masjid berangkat dari rasa ingin berdakwah secara pembangunan sarana ibadah, setelah tiba dan tinggal didesa tersebut, melihat kenyataan bahwa di daerah Tanjungsari belum ada tempat ibadah umum di sekitaran Rest Area untuk melaksanakan sholat serta tidak memiliki sebuah bangunan masjid, maka H. Nazarudin terinsfirasi membuat masjid di sekitaran Rest Area untuk digunakan masyarakat dan para musafir yang kebetulan melewati Rest Area tersebut.

Melihat fenomena Rest Area yang belum mempunyai tempat ibadah seperti masjid, walau mayoritas warga disana muslim, disebabkan moral dan materi warga desa setempat belum mapan, karena pemahaman agama masyarakat desa masih bisa dikatakan belum terbentuk dengan kuat. Mereka beragama mengikuti jalur tradisi keluarga atau keturunan. Kepanutanya terhadap agama tertentu bukan karena faktor kesadaran diri setelah belajar, memahami dan menghayati, tetapi karena faktor keluarga dimana mereka dididik sejak usia dini dengan cara-cara keaagaman yang di anut ayah ibunya maka itu islam di sekitaran Rest Area tidak begitu berkembang.

Kedatangan H. Nazarudin di Tanjungsari untuk menggubah pola pikir warga setempat, dengan cara berdakwah, hakekatnya dakwah merupakan kewajiban umat islam mengajak menuju kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar). Dakwah sebagai syiar merupakan tindakan atau upaya untuk menyampaikan dan memperkenalkan berbagai hal dalam islam, seperti hukum-hukum, kaidah maupun tatacara prilaku. Sedangkan cara berdakwah H. Nazarudin di Desa Simpangsari, dengan cara lewat membangun sarana ibadah, beliau sangat ingin mencontoh Rasululloh yang berdakwah secara terang-terangan dengan amat sabar.

Pada umumnya masjid juga dapat digunakan sebagai shalat berjama’ah, seperti sholat jum’at, shalat hari raya (kalau tidak ditanah lapangan), shalat tarawih (pada malam bulan puasa) dan lain-lain. Fungsi pembangunan masjid untuk dijadikan sholat berjama’ah. Sholat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran islam yang pokok yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun banyak masjid yang didirikan umat islam selain dibuat ibadah sholat juga dibuat untuk sebagai pusat da’wah dan kebudayaan islam dan lain sebagainya, sama halnya dengan fungsi masjid yang dibangun oleh H. Nazarudin yaitu untuk menegakan ibadah sholat dan berda’wah.

Sebagai bangunan yang terkait dengan kepentingan umum, biasanya rencana pembangunan pun membutuhkan anggota kepanitiaan untuk mengatur biaya dan bentuk arsitektur masjid. Masjid Jami Aminatul Jannah berdiri pada tahun 2007 dari hasil kerja keras H. Nazarudin dan warga setempat, proses pembangunan yang cukup panjang menunggu sampai 5 tahun lamanya.

Masjid yang didirikan sangat bermanfaat sekali karena masjid itu sebagai basis atau media menda’wahkan islam di desa setempat, maka itu fungsi masjid sekarang tidak hanya digunakan untuk ibadah ritual saja namun dapat digunakan untuk ibadah sosial, masjid sebenarnya merupakan pusat segala pusat kegiatan. Masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah khusus seperti shalat dan i’tikaf tetapi merupakan pusat kebudayaan / mu’amalat tempat di mana lahir kebudayaan Islam yang demikian kaya dan berkah. Keadaan ini sudah terbukti mulai dari zaman Rasululloh sampai kemajuan politik dan gerakan Islam saat ini.

Menurut ajaran mazhab Hanafie hanya dibenarkan mendirikan sholat jum’at di kota-kota. Di samping itu mazhab syafi’I hanya membenarkan sholat jum’at di dalam sebuuah masjid jami’ dalam tiap kota, dengan syarat ia dapat menampung masyarakat yang melakukan ibadah sholat.

Dengan demikian terjalinlah suatu hubungan komunikasi, silaturrohmi dan persatuan kesatuan di dalam islam antara masyarakat kota dan masyarakat desa di sekitarnya. Karenaya segala berita, perubahan dan perkembangan dapat dengan mudah di beritakan melalui masjid yang letaknya di dalam kota maupun di desa, yang mudah pencapainya.

Maka mazhab syafi’i mengajarkan bahwa orang baru sah mendirikan sholat jum’at apabila jumlah jama’ahnya terdiri dari 40 orang atau lebih. Dengan demikian tidak perlu lagi batasan masjid jami’ sebuah untuk satu kota. Dengan demikian perletakan masjid tidak lagi terkait dari dogma-dogma tertentu. Jadi di mana di suatu tempat kaum muslimin sudah membutuhkanya dan sudah terpenuhi segala syarat-syarat, maka di situ pun dapat didirikan bangunan masjid.

Rasa semangat untuk membangun masjid merupakan pencerminan kesadaran dan kondisi umat islam dalam kurun waktu-waktu tertentu. Secara teoritis jika banyak di bangun masjid berarti banyak pula kaum muslim yang peduli terhadap masjid dan menunjukan banyak umat islam yang tinggal di sekitarnya. Sebaliknya jika pembangunan masjid berkurang, menunjukan kurang adanya kepedulian umat islam terhadap masjid, atau mungkin jumlah umat islam menurun. Masjid dapat dijadikan lambang kebesaran islam dan sebagai barometer dari kondisi masyarakat muslim yang ada di sekitarnya. Dalam pengertian itulah pembangunan sebuah masjid mengandung arti sebagai pembangunan masyarakat islam.